Kalau saya, saya ingat lapangan bermain di sekitar rumah yang memungkinkan saya, semua kakak dan teman sepermainan bertemu dan bermain setelah tidur siang. Ada yang main loncat tinggi, perang-perangan, gala asin dan permainan anak-anak lainnya. Suasana setiap sore biasanya ramai sekali. Saya jadi kenal dengan semua tetangga saya karena kegiatan bermain saya.

Bagaimana dengan déjà vu temen-temen?

Nah sekarang saya tanya kepada anak-anak masa kini, “Apa yang kalian lakukan pada masa kanak-kanak kalian?” Ternyata jawabannya seperti di bawah ini.

“Kalau Yayan mah suka main juga kayak Teteh, tapi maen PS ajah atau maen game on line kayak RO (Ragnarok On line). Itu juga maennya kalo hari minggu. Soalnya selain ga ada waktu karena pulang sekolahnya suka sore dan banyak PR, juga ga ada lapangan di deket rumah Yan. Jadi Yan mah bisanya cuman maen PS aja sendirian atau kadang sama papa atau sama Aa,” jawab Yayan, seorang anak dari kalangan menengah ke atas.

Lain lagi jawaban Iman, seorang anak dari kalangan bawah yang tinggal di sekitar stasiun Lempuyangan Yogyakarta. “Kalau aku dan teman-temanku suka maen layangan di stasiun, karena rumahku deket dengan stasiun. Di sana luas deh tempat bermainnya, karena banyak rel-relnya. Kadang aku juga suka sambil jualan rokok, Mbak. Lumayan buat uang jajan.”

Kalo kita bandingkan masa kanak-kanak kita dengan masa kanak-kanak masa sekarang, rasanya alangkah beruntungnya kita bisa menghabiskan masa kanak-kanak dengan penuh keceriaan. Kita bisa istirahat cukup, karena saat itu belum kena KBK (kurikulum berbasis kompetensi). Kalo kita kan dulu masih CBSA (catat buku sampe abis :D) jadi masih banyak waktu buat tidur siang dan bersosialisasi dengan teman di sekitar rumah.

Dulu waktu kita masih kanak-kanak ruang terbuka masih banyak, karena belum banyak perumahan. Nah sekarang, setiap jengkal tanah di kota sangat berharga, sehingga tidak mengijinkan air untuk berinfiltrasi ke dalam tanah karena tanahnya sudah tertutup semen semua, eh maksutnya jadi ga ada tempat buat anak-anak maen gala asin lagi gitu. Kalo dulu karena segala sesuatunya masih murah, orang tua kita masih sanggup membelikan kita susu, sehingga kita semua tidak pernah mengenal kata marasmus dan kuashiorkor.

Selain itu anak-anak Indonesia sekarang, terutama yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, hampir secara bersamaan harus rela belajar di bawah puing-puing bangunan atau malah kehilangan sekolah mereka, karena sekolah mereka roboh. Entahlah, padahal sekolah mereka satu sama lain saling berjauhan, tapi peristiwa sekolah roboh terjadi secara bersamaan. Aneh bin ajaib!

Banyak kasus sekolah roboh sepanjang Pebruari 2004-Januari 2005. Ada sekolah yang roboh di Tangerang, Banten, Madura, Pontianak, Malang, Demak, Sidoarjo bahkan terjadi di ibu kota negara sendiri yang merupakan pusat pemerintahan. Saya yakin, pasti masih banyak daerah lain di Indonesia yang bangunan sekolahnya roboh. Hal ini sangatlah menghawatirkan, karena material dari bangunan sekolah roboh maupun setengah roboh akan mencelakai baik siswa maupun gurunya. Dan ternyata memang kejadian, diberitakan sebanyak 20 siswa di Serang dilarikan ke RSUD Serang karena terkena runtuhan bangunan (kompas, 8 Pebruari 2005).

Juga tak kalah menyedihkannya berita yang menyentakkan kita tentang maraknya kasus marasmus dan kuasiorkor yang ternyata terjadi di mana-mana (secara bersamaan pula) di Lombok, di Pulau Timor, di Cirebon, di Riau bahkan di ibukota sendiri yang menderita baik marasmus (kekurangan masukan energi parah), kuasiorkor (kekurangan protein parah) ataupun gabungan keduanya.

Memang aneh bin ajaib, di negeri yang terkenal subur terjadi kasus seperti ini. Kalo terjadinya di Somalia ataupun di Ethiopia mah masih make sense. Lah ini di Lombok yang katanya lumbung padi, kejadian juga??

Saya sering mendengar, penderita gizi buruk ini keadaan otaknya tidak bisa dipulihkan kembali. Mereka akan menjadi generasi dengan otak kosong, karena memang ternyata otak itu adalah organ tubuh yang paling banyak kolesterolnya (dalam 100 gram otak terdapat 2000 mg kolesterol). Sekitar 50% bobot kering otak terdiri atas lipida, dan lipida juga merupakan bagian utama jaringan saraf, sedangkan otak merupakan pusat saraf kita.

Nah sekarang kita lihat balita yang menderita gizi buruk, badannya saja hanya tinggal tulang dan kulit, apalagi otaknya, sudah barang tentu ga ada isinya. Pertumbuhan otak yang terganggu akan mengakibatkan penurunan fungsi otak,yaitu kemampuan kognitif rendah yang tidak dapat diperbaiki kemudian. Jadi ga heran bila ada kabar sebanyak 1,8 juta dari 23,5 juta balita kemungkinan tidak bisa lulus SD karena kondisi gizi yang buruk.

Jadi, masa kanak-kanak dulu dan sekarang sudah jelas lebih enakan kanak-kanak yang jaman dulu dong. Yang pasti kanak-kanak yang dulu mah banyak yang pinter, karena ga ada (baca: masih sedikit kali ya) yang menderita gizi buruk,ga ada yang sekolahannya roboh,walaupun ke sekolahnya harus berjalan kaki.

Kanak-kanak yang lahir jaman dulu, sekarang sudah banyak yang jadi orang, malah sudah banyak yang jadi petinggi negeri ini. Mudah- mudahan mereka masih memiliki hati nurani untuk menolong teman sebaya mereka yang lahir belakangan,yang tidak seberuntung mereka.

Dengan solidaritas nasionallah bangsa ini bisa bangkit dari keterpurukan. Karena walaupun cukup banyak rakyat Indonesia yang pintar dan sejahtera, tapi bila dibandingkan dengan penduduk yang tidak berdaya dalam kekuranganya itu, maka kita ini masih bisa dikatakan negara dengan rata-rata penduduknya miskin. Jangan kita lupakan bahwa maju mundurnya suatu negara bukan terletak dari banyak sedikitnya SDA tapi tangguh tidaknya SDM-nya. Tentu saja SDM tangguhnya harus banyak.

Sedikit melenceng dari tema di atas. Kita bisa mencontoh India dalam pembangunan negaranya. Di India sebanyak 40 % penduduknya masih buta huruf. HDI-nya saja masuk peringkat ke-127 (kita ke-111). Untuk mengatasi kemiskinan dan kekurangannya itu, India mengandalkan golongan menengah yang bertanggung jawab dan berdedikasi tinggi terhadap negaranya. Seperti kita ketahui, expor utama India adalah tenaga-tenaga ahli yang super cerdas, bermartabat, hardworker dan adaptif (bayangkan saja, kira-kira sekitar 40% pekerja perusahaan software raksasa Microsoft adalah berasal dari India). Mereka adalah penyumbang devisa utama. Jadi bukanlah suatu utopia bila India menargetkan tahun 2020 menjadi negara maju.

Saya pernah menyimak renungan MH Ainun Najib di Delta FM. Saat itu renungannya tentang sikap kita menghadapi kemiskinan di jalanan (kurang lebih renungannya seperti ini,intinya aja ya..). Ada orang dalam menyikapi kemiskinan di jalan dengan pikiran mikro, yaitu dia memberi uang, misalnya untuk uang makan mereka hari itu. Ada juga orang yang berpikiran makro. Orang ini berpikir, dengan memberi uang kepada orang miskin di jalan (seperti anjal dan pengemis) adalah perbuatan yang tidak mendidik.

Kata MH lagi, orang berpikir makro seharusnya membuatkan sekolah atau yayasan untuk mendidik orang miskin di jalan. Tapi ini mah (yang berpikir makro) melakukan perbuatan mikro ngga, makro apalagi. Terlepas dari mikro dan makro, kita harus ingat, bahwa dalam rejeki kita terdapat bagian untuk orang miskin. Jadi, memang kita musti “setor” sama Tuhan.

Jadi kapan ya kita bergerak menolong teman kita yang masih kanak- kanak tak berdaya, baik di jalanan maupun yang kita tahu memang tidak berdaya? Let’s do something yuuuk…

Ida Arimurti