Oleh : Sari Narulita


Selama sebulan lamanya, pada Ramadhan lalu, kaum Muslim dididik untuk bisa konsisten dengan kejujurannya. Konsisten untuk bisa mengendalikan segala hal yang dapat membatalkan puasa. Konsisten untuk tidak melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan. Dengan kekonsistenan untuk dapat selalu jujur inilah maka keimanannya pun semakin bertambah.

Sesungguhnya keimanan dan kejujuran selalu berjalan beriringan. Keimanan tidak akan dapat bersatu dengan dusta. Rasulullah SAW pernah ditanya, ”Apakah mungkin seorang mukmin itu pengecut?” Lalu dijawab, ”Mungkin.” Lalu ditanyakan lagi, ”Apakah mungkin seorang mukmin itu kikir?” Lalu dikatakan, ”Mungkin.” Lalu ditanyakan lagi, ”Apakah seorang mukmin itu berdusta?” Lalu dijawab, ”Tidak mungkin.” (HR Imam Malik).


Allah berfirman, ”Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur itu karena kejujurannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya.” (QS Al-Ahzab: 24). Dari ayat ini, sesungguhnya Allah mengajarkan kita bahwasanya siapa pun yang menghabiskan umurnya untuk berbohong, maka pada akhirnya ia hanya akan menjadi orang yang munafik. Sesungguhnya keimanan dilandasi dengan kejujuran. Sedangkan kemunafikan dilandasi dengan kebohongan.

Dengan demikian, tidak mungkin keimanan dan kebohongan bercampur dan berasimilasi dalam satu hati yang sama. Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya kejujuran akan mendatangkan ketenangan; sedangkan kebohongan akan mendatangkan keraguan.” (HR Tirmidzi). Kita pun mungkin tak asing mendengar kata-kata bijak, ”Katakanlah suatu kebenaran walaupun menyakitkan.”

Terkadang seseorang berbohong karena suatu kepentingan. Namun, disadari atau tidak, pada saat ia melakukan suatu kebohongan, maka kecemasan akan datang menghantuinya. Cemas apabila kebohongannya terbongkar. Cemas apabila orang akan mencelanya sebagai seorang pembohong dan beragam kecemasan lainnya. Rasululah SAW bersabda, ”Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan. Kebaikan menuntun kepada jalan menuju surga. Apabila seseorang berlaku jujur dan konsisten dengannya, maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya kebohongan menuntun kepada keburukan dan keburukan menuntun kepada jalan menuju api neraka. Apabila seseorang berbohong, maka Allah akan mencatatnya sebagai pembohong.” (HR Bukhari).

Sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Seseorang yang awalnya terpaksa berbohong, namun bila ia melakukannya terus-menerus, maka hal itu akan melekat pada dirinya dan menjadi tabiat hidupnya. Inilah yang harus diwaspadai. Sesungguhnya kebohongan hanya membawa pelakunya kepada banyak permasalahan. Umar ibn Abdul Aziz berkata, ”Demi Allah, tak sekalipun aku pernah berbohong lagi sejak kutahu bahwasanya kebohongan hanya membawa masalah bagi pelakunya!”