Kata Rasulullah saw, ada suatu komponen dalam diri manusia yang jika komponen tersebut baik, maka baiklah keseluruhan individu yang bersangkutan. Kalau buruk maka buruklah semuanya pula. Komponen tersebut tak lain adalah hati. (Tentu saja hati di sini bukan barang yang kita kenal dengan liver, tetapi hati di mana dengannya kita dapat merasa).

Hati adalah dasar dari fikiran, ucapan serta tindakan. Oleh karenanya perbedaan orang yang beriman dengan orang yang munafik, pertama-tama terwujud dalam hatinya. Orang yang beriman hatinya sehat, dimana salah satu indikasinya ialah ia akan bergetar bila diingatkan kepada Allah, dan bertambah imannya bila dibacakan ayat-ayatNya (QS.6:2). Adapun orang-orang munafik hatinya berpenyakit. Hati yang sakit sulit menerima kebenaran. Tambah sakit, tambah sulit (QS.2:10). Jika dibiarkan semakin parah, lama-kelamaan akan permanen sakitnya (QS. 2:7). Dan untuk orang yang sakit hatinya permanen, disediakan adzab yang pedih. Naudzubillahi min dzalik!

Nah, agar penyakit ini tidak menggerogoti kita, mari kita memeriksa diri masing-masing (karena penyakit ini tidak bisa diperiksakan ke dokter, bukan?) Serta berusaha mengobati dan mencegah kambuhnya. Untuk itu kitapun perlu mengenal gejala-gejalanya, karena bisa jadi kita akan salah dalam mendiagnosa. Kadang orang sering salah dalam menilai seseorang. Ada orang yang dijuluki baik hati, padahal gejalanya menunjukkan sebaliknya. Hal ini terjadi karena standar penilaian adalah dirinya sendiri, sementara dirinya sendiri itu sakit juga!.

Salah satu gejala penting yang harus dketahui oleh setiap muslim untuk membuktikan sehat tidaknya hati adalah dengan melihat kondisi hati ini dalam hubungan dengan sesama muslim. Pengobatan penyakit ini penting bukan saja untuk penyelamatan diri pribadi dari azab, melainkan pula dalam rangka pembinaan persatuan dan persaudaraan umat.

Baiklah mari kita waspadi beberapa gejala penyakit hati di bawah ini:

Prasangka buruk

Memang prasangka untuk menyebutkan “jangan-jangan” & “atau aku khawatir” namun hakekatnya ia merupakan tuduhan tanpa bukti, sehingga nabi menyamakan hal ini dengan sedusta-dustanya kata!

Meraba-raba dan mencari-cari kesalahan.

Masih mirip dengan prasangka, meraba-raba adalah suatau usaha mencari ukti tanpa melihat langsung atau tanpa data yang memadai. Karena cuma meraba, bukan melihat jelas cenderung salahnya. Begitu pula mencari-cari kesalahan akan menjerumuskan pada ketidak adilan. Karena kesalahan kecil bisa diperbesar, padahal siapa sih orang yang bebas dari kesalahan?

Debat

Indikasi penyakit hati yang lain adalah kegemaran berdebat dengan sesama muslim, mengapa harus berdebat, bukankah segala sesuatu dapat dikembailkan kepada Allah dan RasulNya dan dapat dimusyawarahkan? Karena debat adalah bentuk sikap mau menang sendiri atau maunya mengalahkan orang lain.

Dengki

Ini berhubungan erat dengan debat, karena sikap mau menang sendiri mempunyai kelanjutan tidak senang dengan kesenangan orang lain, sehingga orang dengki sealu mengharapkan hilangnya nikmat atas diri orang ain.

Benci

Ini sudah jelas. Benci adalah penyakit hati yang paling kronis yang awalnya adalah rasa tidak suka.

Apabila penyakt-penyakit ini bersarang dalam diri orang muslim, maka akibatnya akan muncul sikap permusuhan, saling membelakangi atau tidak peduli. Sikap permusuhan ini biasa terjadi dalam bentuk penghinaan, pelecehan ataupun yang lebih dahsyat yakni penganiayaan. Dan Nabi pun bersabda, bahwa seseorang dianggap jahat, bila ia mengejek saudaranya sesama muslim.

Itulah penyakit hati yang harus diobati dan dicegah dengan cara membiasakan diri membalikkan gejalanya, yaitu : berbaik sangka, melihat kebaikan-kebaikan orang lain menyelesaikan masalah dengan bermusyawarah, ikut bersyukur atas nikmat orang lain, ikut bersedih atas kesusahan saudaranya dimana wujud semua itu adalah mencintai, yang berawal dari rasa suka. Dengan adanya cinta, maka akan muncul penghormatan serta rasa persaudaraaan yang hakiki (QS. 49:10)

Wanita, umumnya rawan terhadap masalah hati ini. Sebagai misal, Siti Aisyah pernah ditegur Rasulullah hanya lantaran mengomentari seseorang dalam hati. Ketika itu ada seseorang yang jangkung namun bajunya kependekan dan seseorang yang pendek namun bajunya kepanjangan. Lalu keadaan tersebut dikomentari kurang lebih semacam ini : “Wah, mestinya baju mereka ditukar saja, dari pada kayak gitu, yang satu kepanjangan yang satu kependekan”.

Sekali lagi, Siti Aisyah mengungkapkan hal itu hanya dalam hati. Bukan diomongkan langsung (diceletukin) seperti biasa dilakukan orang sekarang. Tetapi toh hal itu sudah dianggap suatu kesalahan.

Sementara kita ?

Sudahlah, lebih baik kita segera beristighfar, mohon ampun kepada-Nya serta minta perlindungan agar tidak tergelincir dan terperosok. Agar kita tidak salah dalam menyetel hati, sehingga tahu meletakkan sisi benci dan sisi cinta secara tepat, yaitu cinta karena Allah dan benci karena Allah, atau dengan kata lain “Cinta apa-apa yang dicintai Allah dan benci apa-apa yang dibenci Allah”, sambil senantiasa berdoa sebagaimana firman-Nya (QS. 3:8) :

“YA Allah Rabb kami, janganlah Engkau balikkan hati kami sesudah Engkau tunjuki kami dan berilah rahmat bagi kami dari MU, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi”.

Penulis: Uswah